Gading-Gading Ganesha
Akhirnya, terbeli juga ![]()
Titipan Ibu yang selalu tergiang sejak diucapkannya lewat telepon beberapa minggu lalu.
Mampir dulu ke rektorat (jalan Taman Sari), setelah beli komponen, buat poto2..

Klo begini mungkin namanya jadi Gading-Gading Taman Sari, hehe..
Sebelum diserahterimakan, aku buka dulu ya plastiknya Bu, penasaran pengen baca. Hehehe..
(Semoga ga dikutuk Ibu jadi batu
)
Sejak awal spanduk dipasang di depan gerbang, gw udah melirik-lirik..
Di bawah spanduk itu tertera tulisan Ganesha no 15.
Hmm.. Ganesha no 15. Tempat apa ya itu?
Sambil takut-takut dan sedikit terburu2, gw sempet2in menyusuri sisi barat jalan Ganesha.
Takut, karena sisi barat ini dua tahun yang lalu sempat menjadi momok bagi para mahasiswa dan pengguna jalan.
(Waspadalah akan bom putih dari atas
)
Terburu2, karena -selain was2 tertimpa ‘rejeki’- sebetulnya waktu itu gw ada urusan lain yang mendesak.
Sayang seribu sayang, ternyata hari itu kami belum berjodoh. Gw malah nyasar ke Ganesha no 15E (BNI ITB). Waktu itu begitu panik sehingga tidak sempat lintas balik lagi ke arah timur.
“Ah sudahlah, masih ada lain hari untuk mencari.”
Rasa penasaran itu semakin membuncah ketika berkunjung ke rumah Pak Hendra “Oemar”.
Dan tanpa terduga, terjawab ketika mengobrol dengan seorang teman di Lab Kaca kesayangan gw.
“Klo beli di ’situ’ dapet tanda tangannya lho pen..”, promosi teman gw.
Owalaahh…
Ternyata, Ganesha no 15 itu adalah Pusat Inkubator Bisnis ITB.
(Mana gw sangka klo buku ini dijual di dalamnya
)

Lega, karena ternyata ga salah masuk gedung..
“Seperti apa ya, seperti apa ya?”, batin gw berulang2.
Begitu bersemangat gw membacanya.
Halaman pertama… terdiam. Yahh.. Ga dapet tanda tangan.. -.-
Sebetulnya malem itu gw ada rencana mau nyolder. Tapi godaannya terlalu besar, jendral. Malam itu gw begitu penasaran.
Terlalu bersemangat, sehingga terbebani dan berpikir.. “Bukunya bagus ga ya?”
Dan malam itu juga (alias semalem), dengan tidak sabar, gw lahap. Happ…
Buku setebal 390 halaman ini berkisah tentang perjalanan hidup sekelompok (enam orang) anak muda, sejak mereka baru saja berstatus sebagai mahasiswa, hingga lulus, dan bahkan ketika mereka melanjutkan kehidupan di luar kampus Gajah mereka.
Bagian awal buku ini begitu familiar buat gw. Rasanya seperti kilas balik.
Banyak nama2 yang gw kenal bertebaran di buku ini.
Iya, sejujurnya ini novel narsis, hehe..
(dan.. wuups, apa ini.. kok nama bokap gw sempet kesebut di salah satu halaman..
jangan sampe bokap tau ah, ntar lebay, hehe..)
Terlepas dari itu, gw suka ko, gaya bercerita si Bapak Dermawan Wibisono ini di bagian awal. Lucu, dan menjawab banyak pertanyaan2 sederhana gw, seperti kalimat berikut:
“Jawa Barat memiliki lebih dari 80% perkebunan teh dan kopi yang ada di Indonesia sejak tahun 1970. Itu sebabnya di setiap rumah makan Sunda selalu tersedia air teh gratis bagi setiap pengunjungnya.”
(Duh, sayangnya ini novel sih, jadi gw ga bisa langsung tanya2, “Referensinya dari mana ya Pak..”, hehe..
Ternyata, biarpun udah pensiun, mental kordas masih jalan gini..)
Bagian tengah buku ini.. Menohok gw. Entahlah. Entahlah.. Tidak ingin terlalu banyak berkomentar. Yang jelas, buat gw, denyut novel ini mulai berasa di bagian tengah, justru ketika mereka telah lulus.
Novel ini ditutup dengan bagian akhir yang penuh dengan idealisme. Khas sekali. Berasa baca wacana yang biasa bergulir di milis2 angkatan..
Membuat gw (lagi2) bertanya ke diri sendiri, wah, klo gw.. apa ya, yang bisa gw beri buat bangsa ini?

Gaya ala sampul: Klo begini mungkin namanya jadi Gading Gading Gading Gading Ganesha, hehe..
Kesimpulan:
Yah, mungkin opini gw kurang obyektif. Sejujurnya gw penasaran, gimana ya klo yang baca novel ini bukan dari ITB?
Kira2 gimana pendapatnya? Mungkin ada yang pernah baca?
Di gramed juga ada ko katanya..
Happy reading..
July 2, 2009
hahaha novel narsis …. bener juga ya.
Tapi tapi… gimana kalau kamu baca biografi seseorang? Bukankah itu narsis-senarsis-narisnya?
Yang penting jangan diliat narsisnya tapi ceritanya. Tapi kalau kebanyakan seperti catatan harian aja, ya mungkin yang bukan dr ITB akan merasa kecewa heheheh
salam saya
EM
Akhir ketemu dan baca novelnya juga ya … Kenapa dijualnya di PIB? mungkin karena ide awalnya adalah dari beberapa teman ITB81 dan juragan milis ITB81 kebetulan jadi boss-nya PIB (masih apa enggak ya? itu lho dosen EL yg inisialnya SHS).
Saya awalnya juga cuma baca secara sporadis bagian tengah, siapa tahu ada cerita tentang saya atau minimal mirip(hehehe … narsis). Tapi akhirnya penasaran dan ngebut baca sampai tuntas …
Wah siniin novelnya, biar gw baca! (ahaha… berharap dipinjemin
)
Peeenn…nama babeh kesebut? mo ngomporin aaahhh….kali aja ntar doi justru yg bli tuh novel banyak2 dan disedekahkan ke orang2 yg mampir ke rumah kwakakakak *gretongan_minded.com*
Bokap udah baca tulisanmu ini lho…
Tapi 3 G udah ibu keloni….untuk dibaca, yang lain tunggu dulu.
Btw, makasih ya, jadi udah bisa mulai baca nih, sebelum balik ke Jakarta dan ketiban kerjaan…yang kayaknya bulan ini lagi buanyak banget
Ehh itu kan bukan gambar sampulnya 3 G tapi 5 G (alias El-03)
“Jawa Barat memiliki lebih dari 80% perkebunan teh dan kopi yang ada di Indonesia sejak tahun 1970. Itu sebabnya di setiap rumah makan Sunda selalu tersedia air teh gratis bagi setiap pengunjungnya.”
woo hubungan sebab akibat ya ? Baru tahu saya cara penarikan logika kaya gini.. Hmmm.. jadi bertanya2 logikanya nyambung dimana ?
Kalo abis AE*O* ga boleh ke rumah makan sunda kayanya ni an.. Hehehehe.
penasaran sama jalan ceritanya…. hmmm…. banyak buku baru yang terlewatkan oleh dirikyu ini hiks
kayanya menarik… di gramed ada yah…
nanti saya datangi TKP-nya..
boleh tuh mas ceritanya mau donk hihihi
Ya aku baca resensinya di Blog Pak Oemar …
Pun pernah membaca sekelebatan di Gramed
Ini sepertinya bercerita tentang beberapa mahasiswa ITB dari berbagai latar belakang dan suku ya …
Sepertinya keren ini buku …
Happy Weekend yea… hehehe
Eh ada fotoku..
* Ikutan narsis gayanya narpen ah
Ada nama babeh di sini? Hmm… Berarti PSTK ITB disebut2 dong?
Waktu jalan-jalan 7 jam di Bandung (beneran, 7 jam saja … dari jam 11 siang sampai jam 18 sore) saya sempat keliling masuk ke kampus ITB. Yang mengesankan bagi saya adalah … bunga bogenvil di pintu gerbangnya. Lihat foto fi atas, kayaknya boenvil itu memang jadi kebanggaan ya
saya baru beli dan baca bukunya kemarin. 1 buku itu saya baca habis 7 jam seharian itu.habisnya penasaran banget sih,hehe.komentar saya buat buku itu:like this!
Saya kira bukunya menonjolkan arogansi ITB (terpengaruh dr komen senior), eh tapi ternyata secara keseluruhan, buku ini secara jujur menceritakan kehidupan kampus yang “kebetulan” punya standar pendidikan yang tinggi, dan “kebetulan” lagi kampus itu adalah ITB. Malah seru membaca bagaimana pengarang secara pas bisa menggabungkan cerita kehidupan anak2 ITB, pengaruh kehidupan politik orba di ITB, cinta,persahabatn,keluarga, dan beberapa sejarah bandung, nasional,dan internasional serta kealumnian ITB . Bahkan, novel ini mengajak ITB untuk gak lupa kerjasama dengan alumni PT lain untuk majuin bangsa kita. Patriotis banget deh, ini novel!
Kalau bagi mahasiswi seperti saya, buku ini menyadarkan saya untuk lebih bersyukur krn udh bisa masuk ITB dan memacu saya untuk terus berjuang di sini, untuk saya dan keluarga saya.
Saya nggak tahu apakah Ganesha itu punya gading apa nggak, nggak pernah memperhatikan dengan baik. Kalo logikanya sih *halaah* Ganesha itu adalah salah satu dewa Hindu, nah Hindu itu kan dari India, dan gajah Asia itu yang ada gadingnya cuma yang jantan aja, nggak kayak gajah Afrika yang jantan dan yang betina dua2nya ada gading.
*nggak ada hubungannya sama itu novel huehuehue*
PSTK ? wah istri saya dulu juga ikutan PSTK lho, tapi PSTK juga sering diplesetkan menjadi: Pencak Silat Tangan Kosong, soalnya kan nari melulu …
saya juga sempat lihat buku ini di gramedia…. berarti harus dibeli nih…
Baru pesan dan di antar besok,
biarpun bukan alumni ITB, tapi penasaran juga..:)
Salam kenal.
musafir